Pergerakan tanah di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah masih aktif hingga 9 Februari 2026, rusak 464 rumah dengan 200+ bangunan berat—248 kepala keluarga (est. 1.000 jiwa) mengungsi di posko darurat. Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman konfirmasi survei geologi hari ini tentukan lahan relokasi aman; Wapres Gibran kunjungi lokasi 7 Februari janjikan huntara cepat. BNPB tetapkan status tanggap darurat hingga 16 Februari, pantau jalan retak dalam 2 meter ancam perluasan.
Kronologi & Dampak
Bencana mulai 2 Februari malam pukul 19.00 WIB, tanah bergeser 5-10 cm/hari akibat hujan ekstrem 300 mm + litologi lempung lunak; 500 rumah terdampak, sekolah + mushola miring.https://firstumcpasadena.org Warga Kamal sediakan lahan pengungsian 2 hektar, logistik/logistik harian 3 ton beras + lauk—tapi air bersih defisit picu diare 20 kasus anak. Tim ESDM Jateng + pakar UPN Veteran Yogyakarta identifikasi zona merah 50 hektar, evakuasi lanjutan 500 KK potensial.
Jalan utama Padasari amblas 3 meter, isolasi 2 RT.
Upaya Penanganan
Gubernur Jateng: “Fenomena alam, bukan longsor biasa—pantau seismik 24/7.”
Analisis Kritis & Kegagalan Sistemik
Respons cepat positif—3.000 pengungsi tertangani vs Merapi 2010 chaos—tapi kritik pedas: kenapa peringatan dini BMKG lemah? Curah hujan Jateng 2026 +40% YoY, pemukiman lereng lempung rawan tapi izin IMB longgar. Relokasi 2015 pasca-Cilacap gagal 60% warga balik demi sawah; huntara sementara riskan banjir musiman. Positif: Tagana + relawan masjid efisien, kurangi korban jiwa nol. Negatif: anggaran bencana Rp2 T nasional overload, Tegal prioritas rendah vs Sumatra; survei lahan baru 9/2 telat seminggu.
Fenomena ini wake-up call urbanisasi brutal: 70% desa Jateng zona rawan gerak tanah, tapi konversi sawah jadi villa 20%/tahun. Pemerintah uji komitmen: relokasi permanen + drainase Rp500 miliar, atau siklus tahunan pengungsian? Warga tuntut data real-time apps + asuransi bencana wajib.
Kembali ke Beranda.