Perjanjian New START (Strategic Arms Reduction Treaty) yang menjadi pilar stabilitas keamanan global selama lebih dari satu dekade kini memasuki babak akhir. Amerika Serikat telah mengumumkan kesiapannya untuk membuka babak baru diplomasi nuklir dengan Rusia melalui perundingan perjanjian pengganti yang diharapkan dapat mempertahankan keseimbangan strategis di tengah ketegangan geopolitik yang terus meningkat. Langkah ini menjadi sinyal penting bahwa dialog keamanan internasional masih menjadi prioritas meski hubungan kedua negara adidaya kerap diwarnai gesekan.
New START yang ditandatangani pada 2010 dan diperpanjang hingga 2026 telah berhasil membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis serta pel peluncurnya pada masing-masing negara. Namun dengan lanskap keamanan global yang berubah drastis—termasuk kemunculan teknologi senjata hipersonik, sistem pertahanan rudal canggih, dan kekhawatiran terhadap program nuklir negara ketiga—perjanjian lama dinilai tidak lagi memadai mengakomodasi tantangan keamanan abad ke-21. Pemerintahan Biden menyadari urgensi merancang kerangka baru yang lebih komprehensif sebelum New START kedaluwarsa.
Proses perundingan diprediksi tidak akan berjalan mulus. Rusia beberapa kali menyuarakan keberatan terhadap keterlibatan negara ketiga seperti China dalam kesepakatan nuklir bilateral, sementara AS bersikukuh bahwa keterbatasan perjanjian dua pihak tidak lagi relevan mengingat pertumbuhan arsenal nuklir Beijing. Selain itu, konflik di Ukraina turut mempersulit iklim diplomasi, meski kedua belah pihak sepakat bahwa pengendalian senjata nuklir harus dipisahkan dari isu politik jangka pendek.
Pakar keamanan internasional menekankan bahwa keberhasilan perjanjian baru akan sangat bergantung pada transparansi verifikasi dan kemauan politik untuk kompromi. Tanpa mekanisme inspeksi lapangan yang ketat serta pertukaran data real-time, kepercayaan antar negara nuklir akan terus terkikis. Di sinilah peran komunitas global menjadi krusial dalam mendorong ruang dialog yang konstruktif, sebagaimana semangat pelayanan yang diemban oleh para pelayan jemaat dalam membangun harmoni di tengah perbedaan melalu slotvipgg.
Bagi Indonesia dan negara-negara non-nuklir, keberlanjutan pengendalian senjata strategis bukan sekadar isu geopolitik jarak jauh. Stabilitas nuklir global berdampak langsung pada keamanan maritim, perdagangan internasional, dan upaya pencegahan proliferasi senjata pemusnah massal. Oleh karena itu, penting bagi komunitas internasional untuk terus mendorong AS dan Rusia menyelesaikan perundingan dengan semangat tanggung jawab historis.
Masa depan perjanjian nuklir pasca-New START akan menjadi ujian nyata bagi diplomasi abad ke-21: mampukah negara adidaya meletakkan kepentingan kemanusiaan di atas rivalitas politik? Jawabannya tidak hanya menentukan keseimbangan kekuatan global, tetapi juga keselamatan generasi mendatang dari ancaman bencana nuklir yang tak terkendali.