Iran Tinjau Potensi Negosiasi Nuklir dengan AS

Iran membuka peluang diplomasi nuklir dengan Amerika Serikat di tengah ancaman militer yang memuncak. Presiden Masoud Pezeshkian memerintahkan timnya memulai pembicaraan, dengan pertemuan potensial di Istanbul pada 6 Februari 2026 melibatkan Menlu Abbas Araghchi dan utusan AS Steve Witkoff.

Langkah ini respons terhadap ultimatum Presiden Donald Trump: kesepakatan cepat atau hadapi serangan fasilitas nuklir. Iran tawarkan “no nukes” asal sanksi dicabut, didukung mediator Turki, Mesir, Qatar, Oman—setelah Trump kirim armada ke Teluk Persia. https://jawa11.one/ Ironisnya, setelah Trump robek JCPOA 2018, Teheran kini urungkan pengayaan uranium tinggi; tapi ini diplomasi paksa: Trump tekan demi suara pemilu, Iran beli waktu hindari invasi.

Konteks krisis: IAEA catat Iran punya uranium 60% cukup 3 bom jika 90%, stok terbesar dunia. Trump tuntut zero enrichment, Araghchi tolak tanpa relief ekonomi—rakyat Iran hadapi inflasi 40% dan kelaparan sanksi. Pertemuan Turki jadi penentu: Jared Kushner disebut ikut, sinyal serius Washington tapi penuh intrik.​

Kritik pedas: negosiasi ini bukan perdamaian, tapi teater kekuasaan. Trump main “deal or bomb” seperti Korea Utara 2018, Iran pura-pura patuh sambil siaga rudal balistik. Rakyat Teheran menderita, elit AS politikkan Timur Tengah—di mana diplomasi sejati tanpa ancaman militer? Gagal Istanbul picu Tel Aviv bom Natanz, Hizbullah-Houthi nyala, minyak US$150/barel.​

Babak baru geopolitik: kesepakatan stabilkan energi global, cabut sanksi impor migas Iran. Tapi sejarah tunjukkan Teheran tak pernah serah, Trump tak pernah mundur—6 Februari tentukan damai abadi atau Perang Teluk III. Dunia nahan napas: nuklir bukan permainan poker, tapi tombol kiamat.

Beranda